Claudia's travel footprints

Nihongo Daijobu?

Nihongo Daijobu?

Student Exchange Experience-Going to Japan for the first time

Tiba saatnya pengurusan imigrasi dan pengambilan resident card di Haneda International Airport. Lalu saya ditanya oleh bapak petugas, “Nihongo daijobu” . Saya pun tidak menjawab apa-apa. Bapak petugas yang ramah pun mengerti dan memaklumi jika saya belum bisa bahasa Jepang.

Haneda Airport-Arrival Area

Setelah ambil koper, saya dan teman-teman langsung menuju arrival area. Di sana kami menghabiskan malam karena kereta monorail pertama hari itu adalah pukul 5.07 pagi. Sedangkan kami beres imigrasi, ambil bagasi dan lain-lain adalah pukul 00.30. Kami pun menghabiskan malam di Haneda Airport. Toiletnya super canggih (apa saya yang masih norak) Pertama masuk kesan pertama adalah besar dan bersih sekali. DI mesin kloset ternyata banyak tombolnya, untung saja ada romaji/terjemahannya. Ada beberapa tombol yang mengatur bentuk semprotan (washlet), derajat kepanasan, water pressure, dan ada pengeringnya lohh. Setelah bosan di airport dan waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 kami segera memesan tiket monorail. Dan itu adalah saat dimana penderitaan kami dimulai. Kita akan membawa koper yang besar-besar dan banyak TANPA TROLLEY sampai ke Sendai.


Bagasi

Tokyo-Sendai

“Semua ticketing di Jepang tidak menggunakan jasa manusia”

Jepang sangat menghargai jasa manusia, terbukti untuk semua sistem ticketing baik itu monorail, kereta api, shinkansen, tiket konser, bus, semua pembelian baik dengan credit card maupun cash dapat dilakukan dengan mesin (vending machine). Bentuk uang yang di terima dan kembaliannya bisa semua bentuk juga loh. Dari mulai koin 1 yen samapi uang kertas 10.000 yen ada kembaliannya. Tiket monorail lumayan mahal padahal hanya beberapa stasiun dari haneda. 460 yen kita keluarkan untuk naik monorail. Tapi emang, keren banget di atas monorail, rasanya seperti naik roller coaster. Akhirnya kita sampai di Hamamatsucho Station dan di sana kita masih akan naik kereta lokal dari JR untuk ke JR Tokyo Station.

Terminal bus untuk ke Sendai berada di Kijipashi parking area yang entah itu dimana. Dannn bermodal nekat kami akhirnya berjalan jauhhh sekali (yang kata orang jepang yang kita tanyain itu jaraknya 5 menit jalan kaki) ke Kijipashi parking. Kami memamng lama di bingung mau belok apa lurus, terus kopernya juga jatoh jatoh mulu (koperku) ditambah lagi perasaan kami yang masih excited karena menginjakkan kaki di Jepang untuk pertama kali.

Setelah beberapa saat (yang lumayan lama) akhirnya kita bisa menemukan kijipashi parking area dan beruntungnya kita bertemu seorang warga Malaysia yang merupakan mahasiswi Tohoku University dan akan menuju Sendai pula bersama kami.

Finally, kita naik bus, orang jepang ramah banget (jadi terharu). Mumpung masih pagi sih niatnya mau lihat-lihat pemandangan sekitar Tokyo dari bus. Tapi ngantuk bangettt kerena semalem cuma tidur bentar di airport. Sebelum ketiduran di bus saya sempat melihat sky tree 🙂

Bangun-bangun udah berhenti busnya. Enggak, belum sampai. Baru sejam perjalanan. Bus dari tokyo ke sendai memakan waktu sekitar 5-6 jam. Kita dua kali berhenti di rest area. Crew bus hanya terdiri dari seorang driver yang juga sekaligus bertugas mencatat penumpang dan bantuin penumpang angkatin barang-barang ke dalam bagasi. Benar benar mengefisienkan tenaga manusia yahh Jepang (one man show). Setiap bus berhenti juga selalu dikasih tulisan di depan yang menunjukkan jam beapa bus akan jalan lagi. Biasanya sih 15 menitan berhentinya dan tepat waktu banget loh. Jadi ngga ada tuh yang saling tunggu menunggu. Akhirmya setelah sepanjang perjalanan tidur di bus tiba tiba sudah nyampe sendai aja.  Haltenya di Downtown Sendai sih jadi masih rame dan agak mirip tokyo.  Setelah turun, penderitaan lanjut kembali. Angkat  angkat koper ke tempat deket taksi. Untuk ada kak shakira yang selalu ngasih tau kita gimana gimananya. Dan untung kali ini kita naik taxi, ga naik bus . Hiksss banget kalo naik bus harus angkat angkat koper dan rempong. Jaraknya lumayan sih kalo ukuran naik taxi ke dormitory kita. Dormitory kita itu di International House of Sanjo 1. Engang khusus buat student sama researcher dari luar sih ini dormitory. Dan tempat nya lebih ke “desa”nya jepang gitu. Lumayan jauh dari kampus. Tapi kan orang jepang emang kuat jalan ga kayak kita lemah.

Asramanya emang bangunan lama sih ada 5 lantai dan daerah sini emang daerah student house sih. Banyak banget disini ibarat di indo itu kos kosan. Saya mendapatkan kamar di lantai 4 gedung D. Lumayan banget sih angkat kopernya ke situ.

LOKER”

Kamarnya pun menurutku jepang banget, banyak lemari, banyak loker, ada kitchen set di dalem kamar, heater, kulkas, tapi kamar mandinya di luar haha. Kamarnya pun menurutku cozy banget dan emang didesain biar nyaman banget belajarnya. Secara ada 2 meja, 2 kursi, setiap meja punya loker yang banyak. Ada 3 lemari, satu kayak lemari buku gede banget sama 2 lemari pakaian. Belum lagi loker loker di atas kasur, loker di bawah kitchen set. Bener bener memanfaatkan space yang ada untuk LOKER.

Pemandangan depan kamar adalah jendela gedung sebelah. Jadi di dormitory ini pembagiannya di selang seling. Laki-laki di lantai 1,3 dan perempuan di lantai 2,4. Tapi laki-laki yang saya lihat di sini sebagian besar adalah laki-laki bule atau kalo enggak india, Bangladesh, dan Timur tengah.

WASTE MANAGEMENT?”

Banyak banget hal baru yang saya temukan, contohnya aja the rule of tempat sampah. Percaya enggak di dalem satu gedung ini kaga ada yang namanya tempat sampah. Yup semua sampah langsung harus diturunin ke bawah, ke disposal garbage gitu menurut  jenisnya (organi dan non organic) jadi kita harus beli plastik bag (jangan banyangin yg warnanya item gede, bukan. Ini plastic bagnya ukuran medium bening terus ada 2 warna. Biru ama merah yang fungsinya beda. Saru buat non onrganic satu buat organic) di konbini. Katanya kalo enggak dimasukin di kantong plastik yang sesuai dengan peraturan pemerintah kota, sampahnya tidak akan diangkut nanti. Mungkin biar ga kecampur yang organic dan non organic. Wow kalo di jepang semua tempat sampah begitu benar benar ga wacana tentang slogan “Mari memilah sampah” nya. Bahkan kalau sampah kita gede kita bayar lho kalo mau buang sampah. Nanti dikasih sticker gitu sampahnya. Wow, bener bener belajar nih the rule of buang sampah. Awal awal ribet sih buat aku, apalagi belum punya tong sampah di kamar. Jadi galau mau buang sampah dimana. Tapi jadi rajin sih, tiap hari harus buang sampah ke bawah :”)

Combustible waste sorting
non-combustible waste sorting

Hari pertama tuh galau mau makan apa. Udah mulai kangen nasi goreng, nasi warteng. Di awal sih makan onigiri kayak enak banget gitu, lama-lama bosan juga, pengen makan makanan yang sesungguhnya. Onigiri di conveninent store di deket sini harkanya sekitar 104 yen. Bahkan air mineral dari mulai 600ml, 1.5 L, sama 2L harganya sama loh sekitar 100 yen. Walaupunmencari makanan halal di Jepang agak suit, tetapi di depan asrama sini ada yang menjual bento berlogo halal loh. Pemiliknya adalah orang Bangladesh dan bentonya juga masakan ala-ala Asia Selatan.
Sebenarnya saya temasuk jarang makan-makanan bersantan. Kali ini makanan India, dan kuahnya kayak gulai atau kare gitu sih enak, tapi nasinya sedikit dengan penggantinya berupa roti Nan yang cukup banyak. Harganya pun cukup terjangkau, hanya 500 yen saja.

Keesokan harinya, kami diantarkan kolega untuk berbelanja di toko serba 100 yen. Tokonya cukup besar dan 90% barangnya harganya 108 yen (plus pajak) . Apa aja ada dan harganya murah, jadi buat kalian yang mau pindahan ke Jepang tidak perlu repor-repot membawa perkakas dari Indonesia. Di sana aku beli mangkuk, sapu, mi dalam cup, tempat sampah, pinset, gunting, sandal kamar, gantungan jemuran, sumpit beserta tempatnya, beras, tissue, dan bantal (soalnya bantalnya disini aneh isinya hehehe). Total belanjaan adalah 1040 yen saja, sangat murah!

Sampai sini dulu ya ceritnya, nanti disambung lagi.. semoga menginspirasi! xoxo



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *