Claudia's travel footprints

How to Survive in Japan with Low Cost Student Mode | Tips Berhemat di Jepang

How to Survive in Japan with Low Cost Student Mode | Tips Berhemat di Jepang

Currently I am studying in Tohoku University, Sendai-shi, Miyagi-ken, JAPAN. Before I stepped on this rising sun land, tons of insecurity about “survival” things were quite bothersome.

I got scholarship from JASSO 80,000 yen per month but I wasn’t pretty sure that it would be enough to survive. Well, we know Japan has been famous as one of the most expensive country ccross the globe.

Saat ini, saya sedang menjalani student exchange di Tohoku University, Sendai, Miyagi, Jepang. Sebelum keberangkatan, tentunya saya sangat khawatir apakah dengan bermodalkan besiswa dari JASSO sebesar 80,000 yen per bulan saya dapat bertahan hidup , mengingat Jepang adalah negara dengan biaya hidup yang cukup tinggi.


1. Biasakan masak di rumah
Tidak terasa 8 bulan lebih saya sudah hidup di Jepang. Ternyata tidak semenakutkan yang saya kira, untuk masalah finansial. Saya masih bisa makan 3 kali sehari (bahkan suka lebih), seminggu sekali makan di restoran, jalan-jalan keliling jepang (kanto,kansai,hokkaido), bahkan Alhamdulillah sampai jalan-jalan ke eropa dengan tabungan JASSO. Nah, sekarang saya akan mengulas tentang kiat-kiat saya, tips dan trik bertahan hidup di jepang dengan low cost.

Masakan jepang memang menggiurkan, apalagi kalau anda berada di jepang. Rasanya ingin makan di luar terus, setiap hari. Tapi, harga makanan yang telah jadi dibandingkan dengan bahan-bahannya saja cukup jauh rentang harganya. Hal ini terjadi karena di Jepang, upah pegawai cukup tinggi sehingga makanan jadi yang memanfaatkan jasa chef atau pelayan restoran menjadi tinggi harganya (tapi sangat enak!). Kalau 3X sehari makan di luar terus menerus sepertinya akan rugi juga ya.. Bayangkan, misalkan anda beli makan di konbini (convenient store) yang harganya paling tidak 300-500 untuk makanan porsi makan siang. 500×3 kali sehari = 1,500. 1,500×30 hari dalam satu bulan =45,000. 45,000 yen untuk makan makanan konbini 3x sehari. Belum lagi ditambah uang sewa apato (apartment) yang pasti diatas 25,000 yen tiap bulan

(kalau saya sih di asrama, biaya tagihan perbulan biasanya sekitar 12,000 yen), bayar air, gas, asuransi, transportasi, dsb. Belum lagi kalau ingin jajan di luar, beli es krip, buah, dsb.

Namun, jika anda masak………

Belanja di supaa (supermarket) at least sekali seminggu dan menghabiskan 3000 yen perminggu (sudah termasuk beli ayam, sayur, es krim, dsb). Beli beras 10 kg paling murah Rp 1,700 yen bisa untuk makan 2 bulan (untuk yang makannya porsi kuli, untuk wanita seperti saya biasaya bisa 2.5 bulan :p *sesama porsi kuli mah saya).

Jadi untuk makan 3,000×4 minggu sebulan – 12,000 yen + beras sebulan 800 yen = 20,000 yen sebulan! Itu untuk makanan pokok ya, kalau mau makan diluar sekali-kali ya silahkan… dan percaya deh, kalau kita sering masak di rumah, sekalinya makan di restoran akan terasa sangat nikmat. Saya sih biasanya makan di kaiten sushi restoran (seperti genki sushi) atau ke italian atau japanese restaurant bersama sahabat-sahabat saya saat weekend. Kalau weekday agak susah meet up teman, masa mau makan sendirian (ngga enak bro).

2. Setiap hari masak nasi

Sebagai orang indonesia, kita tak bisa terlepas dari nasi sebagai makanan pokok kita. Mengingat harga nasi matang dan beras jauh berbeda, maka akan lebih menguntungkan untuk kita selalu memasak nasi. Terkadang kesibukan kuliah membuat kita malas masak karena kita harus bangun pagi-pagi (gak pagi-pagi amat juga sih), berangkat ke kampus, dll. Tapi satu hal yang jangan sampai terlewat. Bawa nasi. Tidak “fresh from the oven” tidak masalah. Masukin aja nasi persediaanmu (yang mungkin masaknya kemarin malamnya sebelum tidur) ke dalam kotak makanmu. Jangan kawatir makan nasi dingin, kalau di kampus kita bisa memanfaatkan microwave yang ada di kampus untuk menghangatkan kembali nasi kita. Kemudian kita tinggal beli lauknya di cafetaria. Biasanya saya makan ikan dan sayuran berkisar sekitar 100-250 yen sekali makan untuk lauknya saja. Karena saya sudah bawa nasi, maka saya tak perlu membeli nasi . Berikut harga nasi di kantin, porsi kecil 54 , sedang 64 yen, besar 97 yen, super besar 127 yen. Karena saya makannya selalu porsi besar, jadi untuk saya, lebih menguntungkan kalau bawa nasi sendiri sebanyak yang saya mau.

Soba with tempura di kantin kampus (350 yen)

Another meal di kampus

 

3. Naik Sepeda

Transportasi di jepang sangatlah mudah. Banyak jalur kereta, subway, bus, dsb. Namun, karena jepang adalah negara maju dengan upah pekerja dan biaya maintenance tinggi, maka sekali lagi, tarif transportasinya juga sangat tinggi. Untuk naik bis saja, jauh dekat 230 yen. Naik kereta dan subway 140-400 yen untuk jarak dekat. Tentunya setiap hari kita butuh mobile dong, inginnya sih tanpa mengeluarkan ratusan bahkan ribuan yen tiap harinya. Solusinya adalah, naik sepeda. Sepeda merupakan salah satu alat transportasi utama di Jepang, maka tak heran, pemerintahkan bahkan sampai punya policy sendiri untuk para pesepeda.

Kalau ingin membeli sepeda baru di toko sepeda, harganya berkisar antara 8,000-….. untuk geared bike. Kebetulan saya beli sebeda di bazaar. Walaupun second tapi masih bagus dan memiliki gear. Hanya 4000 yen saja. Setiap hari saya mengayuh sepeda untuk mobile dari tempat satu ke tempat yang lainnya.

Tampak atas dari sepeda saya (yang telah menemani saya selama ini

 

4. Tidak membeli paket internet

Membeli paket internet di jepang, berarti anda harus membeli hape di jepang (kontrak) atau kontrak pocket wifi. Atau bisa juga sebenarnya membeli sim card tapi harus menggunakan kartu kredit, sementara saya belum punya kartu kredit. Agak susah memang. Al-hasil, selama saya tinggal di jepang, saya tidak pernah membeli layanan paket internet untuk smartphone. Selama ini saya hanya memanfaatkan wifi di kampus, wifi dalam kamar (3,000 yen per bulan), dan free wifi misalnya di seven eleven. Agak susah memang di awal karena terkadang kita jadi susah dihubungi jika sedang berada di luar, namun lama kelamaan akan terbiasa apalagi dengan adanya free wifi di tempat-tempat perbelanjaan misalnya (jadi lebih peka akan adanya free wifi).

 

5. Part time Job

Bagian ini mungkin opsional saja, jika anda memiliki waktu luang, ingin cari pengalaman bagaimana rasanya part time job di jepang, bisa bahasa jepang (level dapat mengerti dan dimengerti), maka part time job lah pilihan yang tepat. Mengingat hampir semua mahasiswa di jepang menjalani part time job di sela-sela kuliah mereka, saya pun tertarik untuk bisa melakukan part time job atau arubaito ini. Ditambah lagi dengan minumum salary yang tinggi di Jepang. Untuk kota sendai, minimal gaji adalah 750 yen per jam. Cukup banyak bukan? mengingat kerjanya juga tidak “se-romusha” kerja dengan gaji sebesar itu di Indonesia.

Tidak susah untuk tinggal dan hidup di jepang sebenarnya. Kalau mau berhemat, sangat bisa yakni dengan cara memasak sendiri dan bersepeda untuk mobilisasi. Berhemat bukan berarti hidup serba pelit, melainkan menyisihkan sebagian uang yang kita punya untuk dinikmati di akhir minggu bersama orang -orang tersayang. Ada kalanya kita juga butuh rekreasi, maka kita dapat gunakan uang simpanan kita.

inquiries: follow me on social media (right top of the page)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *